Kementerian Agama RI mengambil langkah inovatif dengan memanfaatkan modalitas intelektual para akademisi untuk agenda perdamaian dunia. Sebuah forum akademik internasional digelar secara khusus membahas konflik Gaza, menjadikan ruang akademik sebagai laboratorium untuk meracik solusi damai. Pendekatan ini didasari keyakinan bahwa solusi berkelanjutan harus lahir dari analisis rasional dan kajian mendalam, bukan hanya pertimbangan politik sesaat. Forum ini menghimpun para pemikir terbaik dari dalam dan luar negeri untuk bersama-sama mencari jalan keluar dari kebuntuan penyelesaian konflik. Inisiatif ini merupakan bentuk nyata dari diplomasi intelektual yang diusung Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani, menyatakan bahwa dunia akademik memiliki tanggung jawab moral untuk turut serta mencerahkan persoalan-persoalan kemanusiaan. Akademisi, dengan independensinya, dapat memberikan sudut pandang yang segar dan tidak terikat oleh kepentingan politik tertentu. Melalui forum ini, diharapkan lahir narasi-narasi baru yang konstruktif untuk memecahkan kebekuan dalam proses perdamaian di Gaza. Hasil kajian akademik yang komprehensif dapat menjadi alat negosiasi yang powerful dalam diplomasi internasional. Kemenag memfasilitasi proses transformasi pengetahuan menjadi instrumen perdamaian yang efektif.
Pembahasan dalam forum tidak hanya berkutat pada situasi terkini, tetapi juga melakukan proyeksi masa depan dan skenario-skenario perdamaian yang mungkin dicapai. Berbagai pemodeling konflik dan resolusi didiskusikan untuk memprediksi outcome dari berbagai intervensi yang dapat dilakukan. Pendekatan foresight ini dianggap penting untuk merancang strategi jangka menengah dan panjang yang lebih terarah. Para peserta juga membahas peran teknologi dan media digital dalam memengaruhi opini publik dan dinamika konflik. Hal ini menunjukkan bahwa forum ini mencoba menjawab tantangan perdamaian dengan perspektif yang kekinian dan relevan.
Nilai plus dari forum ini adalah kemampuannya dalam membangun jejaring kerja sama antar universitas dan pusat studi di berbagai negara untuk secara berkelanjutan memantau dan berkontribusi bagi perdamaian Gaza. Jejaring ini akan menjadi kanal diseminasi informasi dan penelitian yang dapat diakses oleh para pemangku kepentingan. Kemenag berkomitmen untuk memelihara jejaring ini sebagai aset strategis Indonesia dalam percaturan politik global. Kolaborasi riset dan pertukaran mahasiswa dalam isu perdamaian juga akan didorong untuk memperkuat kapasitas generasi muda. Dengan demikian, dampak forum ini tidak berhenti pada satu pertemuan, tetapi berlanjut dalam bentuk aksi-aksi nyata.
Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari forum ini akan dikomunikasikan secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri RI untuk diintegrasikan ke dalam kebijakan politik luar negeri Indonesia. Sinergi antara Kemenag dan Kemlu ini diharapkan dapat memperkuat posisi dan bargaining power Indonesia di forum-forum internasional. Langkah ini menunjukkan pendekatan whole-of-government dalam menyikapi isu global, dimana semua instansi pemerintah berkoordinasi secara harmonis. Indonesia tidak hanya menjadi pembawa pesan perdamaian, tetapi juga penghasil gagasan perdamaian yang berbasis penelitian ilmiah. Ini adalah bentuk soft power yang dikembangkan secara sistematis.
Forum akademik internasional Kemenag tentang Gaza ini telah mencatatkan sebuah preseden penting dimana kajian keilmuan dihadirkan sebagai bagian dari solusi krisis kemanusiaan. Langkah ini diharapkan dapat menginspirasi negara-negara lain untuk lebih melibatkan komunitas akademik dalam proses perdamaian. Keberhasilan forum ini tidak hanya diukur dari dokumen yang dihasilkan, tetapi dari kemauan politik kolektif untuk mengadopsi rekomendasi yang ada. Kemenag akan terus berperan sebagai katalisator yang mempertemukan ide, resources, dan kemauan politik untuk mewujudkan perdamaian di Gaza dan dunia.