Setelah pernyataan tersebut diungkapkan, Budi menjelaskan bahwa ucapannya tidak dimaksudkan untuk mempermalukan fisik seseorang atau melakukan body shaming, melainkan sebagai peringatan untuk menjaga ukuran pinggang agar terhindar dari risiko penyakit kronis.
Namun, penjelasan tersebut dibantah oleh Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia, Slamet Budiarto. "Dia [Menkes] menghitung BMI berdasarkan tinggi badan. Jika tingginya 200 [cm], ukuran celananya mungkin juga di atas 35, kan? Itu hanya salah satu faktor. Masih ada puluhan faktor lain yang menentukan kesehatan seseorang," ujar Slamet.
Dalam acara lain, tiga hari kemudian, Menkes Budi menyatakan bahwa individu yang memiliki gaji Rp15 juta per bulan pasti lebih sehat dan lebih pintar dibandingkan dengan mereka yang bergaji Rp5 juta.
"Apa perbedaan antara orang yang bergaji Rp 15 juta dan Rp 5 juta? Hanya dua, satu, pasti lebih sehat dan lebih pintar. Jika dia tidak sehat dan tidak pintar, tidak mungkin gajinya Rp 15 juta, pasti Rp 5 juta," ungkap Budi.
Pernyataan ini sekali lagi, menurut Slamet Budiarto, tidak akurat. Faktanya, banyak orang di desa yang pendapatannya di bawah Rp5 juta tetapi dapat hidup hingga usia tua dalam keadaan sehat.
Saat silaturahmi Lebaran ke rumah Presiden ke-7 Joko Widodo (11/04), Menkes Budi juga menyebut Jokowi masih sebagai atasannya.
"Silaturahmi karena Pak Jokowi kan bosnya saya," ujarnya.
Padahal pada saat itu, dia menjabat sebagai menteri kesehatan di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Pada bulan yang sama, Budi mengusulkan agar tukang gigi diizinkan untuk praktik di puskesmas. Namun belakangan, pernyataan ini diralat.
"Pernyataan Menkes yang akan mendidik tukang gigi agar bisa meningkatkan keterampilannya, merupakan kesalahan istilah. Yang dimaksud adalah terapis gigi dan mulut yang memiliki pendidikan formal.
"Jadi jelas, Menkes tidak akan meningkatkan keterampilan tukang gigi," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman seperti yang dilaporkan oleh kantor berita Antara pada 16 April 2025.